70 Anggota Parfi Ikut Pelatihan Tagana
Sebanyak 70 anggota Persatuan Artis Film Indonesia (Parfi) selama 3 hari (27 Maret-29 Maret) mengikuti pelatihan Taruna Siaga Bencana (Tagana) di Wisma Kinasih, Caringin, Bogor, Jabar. Pelatihan Tagana bagi 70 anggota Parfi ini dibuka oleh Menteri Sosial H Bachtiar Chamsyah.
Tagana merupakan kelompok relawan yang terampil dan kuat sebagai orang terdepan dalam setiap penanggulangan bencana. Ini implementasi program Depsos untuk penanggulangan bencana berbasis masyarakat. Pelatihan Tagana ini memang diperuntukan bagi masyarakat di seluruh Indonesia dan merupakan tim inti penanggulangan bencana yang terlatih dan cerdas.
Selama tiga hari, ketujuh puluh anggota Parfi ini memperoleh materi pokok, yaitu out bound, dan materi khusus. Untuk out bound, materinya antara lain ice breaking, personal building, dan team building. Sedangkan untuk materi khusus, terdiri dari konseptual skill, social skill, dan technical skill.
Mereka juga mendapat materi tambahan berupa manajemen kebencanaan, yang meliputi siklus bencana dan manajemen bencana berbasis masyarakat. Selain itu, mereka juga mendapat materi berupa sistem penanggulangan bencana di Indonesia, yang meliputi mekanisme kelembagaan serta kewenangan.
Sedangkan untuk aplikasi terdiri dari gladi lapang (dapur umum lapangan, evakuasi, dan distribusi bantuan). Sedangkan gladi posko meliputi data kejadian bencana, analisis kejadian, informasi dan komunikasi bencana, analisis kebutuhan bantuan, serta simulasi.
Mensos dalam sambutannya mengemukakan, pemerintah tahun 2008 menargetkan membentuk 4.000 Tagana. "Sebelum saya pensiun sebagai Mensos, diharapkan pembentukan Tagana tersebut dapat direalisasikan. Keberadaan Tagana itu penting, mulai dari evakuasi korban hingga penyaluran bantuan," kata Mensos Bachtiar Chamsyah.
Menurut Mensos, pembentukan Tagana tersebut adalah bagian dari kebijakan dan langkah strategis dalam kontingensi penanggulangan bencana. "Mengingat pentingnya keberadaan Tagana tersebut, maka pembinaannya ke depan hendaknya menjadi tanggung jawab bersama, khususnya pemerintah kabupaten dan kota," katanya.
Dengan demikian, setiap daerah mempunyai jumlah anggota Tagana yang proporsional, sesuai tingkat kerawanan daerah serta mempunyai standar keahlian yang telah ditentukan untuk menjadi yang terdepan dalam setiap penanggulangan bencana," katanya. (Singgih BS)
| Comments |
|

Publikasi
Kontak Kami
Download








